Acara Maulid

Selasa, 01 Februari 2011

Bagaimana Mengetahui Orang Bakal Jenius ?

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد




Apa yang membuat orang jadi jenius? Apakah ada arsitektur khusus di otak sehingga orang bisa memiliki bakat ekstrim dibandingkan dengan rata-rata individu?.

Apakah bentuk otak Isaac Newton yang menjadikannya pintar matematika, ataukah ia hanya di tempat yang tepat pada saat yang tepat ketika menemukan kalkulus?

Mengapa Carl Friedrich Gauss unggul begitu banyak di bidang matematika, dan menemukan pola dalam bilangan prima dan menciptakan geometri baru?

Pertanyaan-pertanyaan ini telah membuat penasaran ilmu pengetahun selama bertahun-tahun. Belum lama ini orang percaya jawabannya adalah sederhana: otak yang lebih berat membuat fungsinya lebih baik.

Orang-orang termasuk Gauss dan Einstein telah menyumbangkan otak mereka untuk ilmu pengetahuan.

Otak napoleon II ketika ditimbang beratnya 1.500 g. Novelis Thackeray 1.636 gram.

Namun Charles Babbage, bapak komputasi dan jenius matematika, memiliki otak hanya 1.403 gram. Akibatnya mencari otak jenius melalui pembedahan itu, tampaknya tak bisa jadi pegangan.

Tapi penelitian baru-baru ini mulai mengungkapkan indikator kunci dalam perkembangan otak anak yang dapat memprediksi bakat matematikanya.

Justin Halberda dan timnya di departemen psikologi di Universitas Johns Hopkins, Baltimore merancang percobaan untuk menguji apakah anak-anak memiliki rasa yang mungkin berdampak pada kesuksesan masa depan mereka di sekolah matematika.

Anak-anak dari berbagai usia ditunjukkan gambar dengan sejumlah titik-titik kuning dan biru yang tersebar secara acak di layar. Gambar itu tidak cukup lama untuk dihitung. Tapi peserta harus menilai dengan cepat apakah ada lebih banyak titik-titik kuning atau biru.

Kebanyakan orang sepertinya mampu menilai ketika ada tiga titik-titik kuning dan lima titik biru. Namun tugas semakin sulit ketika semakin banyak titik-titik yang ada pada layar.

Manusia dan hewan mengembangkan nomor intuitif dalam alasan evolusi yang baik untuk menghadapi serangan oleh suku saingannya. Penilaian cepat apakah kalah dalam jumlah menginformasikan keputusan untuk melawan atau menghindar.

Para peneliti di Johns Hopkins dikejutkan dengan berbagai kemampuan anak-anak. Titik di mana orang-orang mengalami kesulitan membuat penilaian tampaknya bervariasi antara rasio lima titik kuning sampai enam titik biru sampai dengan rasio sembilan dan sepuluh titik.

Namun sebagian orang sudah merasa sulit bahkan pada rasio dua titik kuning dan tiga titik biru.

Penelitian mengungkapkan intuisi lemah dari angka di usia awal berhubungan dengan kecerdasan di bawah rata-rata matematika saat usia sekolah.

Hal itu cukup mencolok karena kemampuan matematika yang lebih tinggi tergantung pada analisis bahasa yang lebih simbolis yang terjadi di tempat berbeda di otak untuk menarik insting menyangkut angka.

Penelitian Halberda itu mungkin menunjukkan bahwa orang benar saat mengatakan mereka tidak memiliki otak saat mengerjakan matematika.

Tetapi bagi mereka yang memiliki jumlah rata-rata cenderung berkontribusi terhadap kesuksesan di kemudian hari. (inilah.com)
Evolta, yaitu Robot Asal Jepang yang Siap Pecahkan Rekor Dunia

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد




Evolta, robot yang menjadi maskot perusahaan elektronik asal Jepang, Panasonic, pernah menerima penghargaan Guinness World Records. Robot ini kembali akan memukau publik dengan menjelajah jalanan Jepang dengan melakukan long march sejauh 300 mil atau tepatnya sekitar 482 kilometer dari Tokyo ke Kyoto.

Seperti yang dilansir oleh Panasonic, dalam video-nya, Evolta hadir berbentuk robot humanoid mungil yang menarik gerobak roda dua ala zaman pertengahan daihachiguruma, Jepang.

Robot dengan tinggi hanya sekitar 17 cm dan berat 997 gram ini akan berjalan dalam sebuah plastik silinder yang berputar, mirip seperti hamster dengan rodanya. Bedanya, Evolta berjalan sambil menarik gerobak yang sesungguhnya adalah baterai Evolta 12 AA untuk sumber energinya.

Dengan kecepatan mencapai dua hingga tiga meter per jam, robot yang dikendalikan dengan remote control ini diperkirakan akan tiba di Kyoto pada 10 Desember 2010, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 49 hari.

Evolta dijadwalkan akan menjelajah jalanan bersejarah seperti Tokaido yang legendaris dan jalur kuno yang menghubungkan Tokyo dan Kyoto. Tradisi menempuh perjalanan dengan berjalan kaki telah dirayakan selama berabad-abad oleh para seniman di Jepang. Inilah yang juga akan dilakukan oleh Evolta.

Robot mungil Evolta akan menempuh perjalanan sesuai peraturan penyelenggara acara. Misalnya saja, dia hanya berjalan di waktu siang hari, hanya boleh mengisi ulang baterainya satu kali dalam sehari dan tidak diperkenakan berjalan saat cuaca hujan. Semua aktivitas Evolta dimonitor oleh tim melalui sebuah komputer dari jarak jauh.

Tim perancang Robot Evolta berharap, Robot mungil ini bisa sampai ke Kyoto tepat waktu dan kembali memenangkan penghargaan Guinness World Records. Jika berhasil, aksinya kali ini akan membuat Evolta menjadi robot humanoid pertama yang berjalan menjelajahi jalanan bersejarah Jepang. (kaskus/ ryas1303)